Messi GOAT kembali menjadi perdebatan setelah Lionel Messi resmi mengakhiri karier internasionalnya bersama Timnas Argentina. Beberapa hari setelah pensiun, Messi membagikan unggahan terbaru yang kembali memancing pertanyaan besar: apakah status GOAT akhirnya sudah selesai diperdebatkan?
Unggahan tersebut merupakan bagian dari kampanye Michelob ULTRA bertajuk “Tab Closed”. Dalam videonya, perjalanan Messi bersama Argentina ditampilkan seperti struk panjang yang berisi daftar pencapaian dan momen penting selama lebih dari dua dekade. Di bagian akhirnya, muncul pesan yang secara simbolis menyiratkan bahwa perdebatan GOAT telah “ditutup”.
Timing unggahan itu membuatnya terasa semakin kuat. Messi baru saja pensiun dari Timnas Argentina pada usia 39 tahun setelah menjalani karier internasional yang dimulai sejak 2005. Ia meninggalkan La Albiceleste sebagai kapten, juara dunia, pemegang berbagai rekor, serta salah satu figur terpenting dalam sejarah sepak bola Argentina.
Karier Messi Bersama Argentina Akhirnya Lengkap
Perjalanan Messi bersama Argentina tidak selalu berjalan indah.Messi kembali mengenakan seragam Argentina dan justru memasuki periode terbaik dalam karier internasionalnya.
Pada fase awal kariernya, salah satu kritik terbesar yang terus mengikuti Messi adalah kegagalannya meraih trofi besar bersama tim nasional. Ia sempat membawa Argentina mencapai final Piala Dunia 2014, tetapi kalah dari Jerman.
Kegagalan juga datang dalam beberapa final Copa América. Tekanan yang begitu besar bahkan membuat Messi sempat mengumumkan pensiun internasional setelah kekalahan di Copa América Centenario 2016.
Namun keputusan itu tidak bertahan lama.
Messi kembali mengenakan seragam Argentina dan justru memasuki periode terbaik dalam karier internasionalnya.
Penantian panjang itu akhirnya berakhir ketika Argentina memenangkan Copa América 2021. Gelar tersebut menjadi trofi senior internasional besar pertama Messi bersama La Albiceleste dan sekaligus menghapus salah satu kritik terbesar terhadap kariernya.
Setahun kemudian, Argentina mengalahkan Italia di Finalissima 2022.
Tetapi pencapaian terbesar tentu datang beberapa bulan setelahnya.

Piala Dunia 2022 Mengubah Seluruh Narasi
Piala Dunia Qatar 2022 menjadi titik yang mungkin paling menentukan dalam perdebatan mengenai status Messi sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa.
Argentina mengawali turnamen dengan kekalahan mengejutkan dari Arab Saudi. Namun setelah itu, Messi dan rekan-rekannya bangkit hingga mencapai final.
Di partai puncak, Argentina menghadapi Prancis dalam salah satu final Piala Dunia paling dramatis sepanjang sejarah.
Setelah pertandingan berakhir 3-3 hingga extra time, Argentina akhirnya menang melalui adu penalti.
Messi pun mengangkat trofi Piala Dunia yang selama bertahun-tahun menjadi satu-satunya gelar besar yang belum ada dalam koleksinya.
Argentina mencatat bahwa perjalanan Messi bersama tim nasional akhirnya mencakup Copa América 2021, Finalissima 2022, Piala Dunia 2022, dan Copa América 2024.
Setelah Qatar, argumen bahwa Messi “belum pernah sukses bersama Argentina” praktis kehilangan relevansinya.
Bukan Berhenti di Piala Dunia, Messi Kembali Juara Copa América
Kesuksesan Messi bersama Argentina tidak berhenti setelah menjadi juara dunia.
Pada 2024, Argentina kembali memenangkan Copa América. Itu membuat Messi memiliki dua gelar Copa América dalam periode tiga tahun, selain Piala Dunia dan Finalissima.
Konsistensi Argentina pada periode tersebut semakin memperkuat warisan Messi di level internasional.
Ia tidak lagi hanya dikenang sebagai pemain dengan kemampuan individu luar biasa, tetapi juga sebagai kapten dari salah satu periode tersukses dalam sejarah modern Timnas Argentina.
Bahkan pada Piala Dunia 2026, ketika usianya sudah 39 tahun, Messi masih membawa Argentina kembali mencapai final.
Perjalanannya memang tidak berakhir dengan gelar karena Argentina kalah dari Spanyol, tetapi Reuters menilai hasil tersebut tidak menghapus warisan besar yang sudah ia bangun bersama negaranya.
Statistik Messi Bersama Argentina Sulit Diabaikan
Bukan hanya trofi yang membuat resume internasional Messi begitu kuat.
Ketika pensiun, ia mencatatkan 207 penampilan dan 125 gol untuk Argentina. Angka tersebut menempatkannya sebagai pemain dengan penampilan terbanyak sekaligus pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah La Albiceleste.
Messi juga menjadi salah satu pemain yang tampil di enam edisi Piala Dunia.
Perjalanannya di turnamen terbesar itu mencakup final 2014, gelar juara 2022, hingga kembali menjadi runner-up pada 2026.
Dengan begitu, karier internasionalnya bukan hanya panjang, tetapi juga berlangsung di level tertinggi sampai usia yang sangat matang.
Lalu, Apa yang Masih Kurang?
Pertanyaan inilah yang menjadi inti dari debat GOAT.
Jika ukurannya adalah trofi, Messi sudah memenangkan Piala Dunia, Copa América, Liga Champions, gelar liga domestik, dan berbagai kompetisi lainnya.
Jika ukurannya penghargaan individu, ia juga mengoleksi rekor delapan Ballon d’Or. Financial Times mencatat pencapaian tersebut sebagai bagian penting dari status Messi sebagai salah satu pesepak bola terbesar sepanjang masa.
Jika ukurannya statistik, Messi telah mencetak ratusan gol sekaligus menjadi salah satu playmaker paling produktif dalam sejarah modern sepak bola.
Dan jika ukurannya karier bersama tim nasional, bagian yang dulu sering menjadi kelemahannya justru berubah menjadi salah satu argumen terkuatnya.
Itulah mengapa unggahan “Tab Closed” terasa begitu relevan.
Pesannya sederhana: daftar pencapaiannya sudah begitu panjang sehingga seolah tidak banyak hal tersisa untuk diperdebatkan.
Tapi Debat GOAT Tetap Tidak Sesederhana Itu
Meski resume Messi sangat lengkap, perdebatan GOAT hampir pasti tidak akan benar-benar berhenti.
Alasannya sederhana: tidak ada satu formula resmi untuk menentukan pemain terbaik sepanjang masa.
Sebagian orang menempatkan Lionel Messi sebagai nomor satu karena kombinasi antara dribel, visi, kreativitas, gol, assist, trofi, dan penghargaan individu.
Sebagian lainnya tetap memilih Cristiano Ronaldo karena produktivitas gol, atletisme, konsistensi di berbagai liga, longevity, serta rekor internasional bersama Portugal.
Bahkan setelah Messi pensiun, perdebatan itu langsung kembali muncul.
Piers Morgan, yang dikenal sebagai pendukung Cristiano Ronaldo, justru berargumen bahwa pensiunnya Messi di usia 39 tahun memperkuat klaim Ronaldo sebagai GOAT karena Ronaldo masih melanjutkan karier internasionalnya.
Hal ini menunjukkan bahwa debat tersebut memang tidak mungkin selesai hanya melalui satu statistik atau satu pencapaian.
Messi vs Ronaldo Akan Selalu Jadi Debat Generasi
Selama hampir dua dekade, Messi dan Cristiano Ronaldo membuat standar sepak bola modern naik ke level yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Keduanya mendominasi penghargaan individu, mencetak ratusan gol, memenangkan Liga Champions, serta menjadi ikon untuk klub dan negaranya masing-masing.
Namun gaya bermain keduanya sangat berbeda.
Messi dikenal sebagai pemain yang mampu menjadi pencetak gol sekaligus kreator permainan. Ia bisa turun ke lini tengah, membawa bola melewati lawan, menciptakan peluang, kemudian tetap menjadi finisher utama.
Ronaldo berkembang menjadi mesin gol dengan kemampuan atletik, duel udara, pergerakan di kotak penalti, serta mentalitas kompetitif yang luar biasa.
Karena itulah pilihan GOAT sering kali bergantung pada aspek sepak bola mana yang paling dihargai seseorang.
Unggahan Messi Lebih Tepat Dibaca Sebagai Perayaan Karier
Meski banyak orang membaca unggahan terbaru Messi sebagai “jawaban” dalam debat GOAT, penting juga untuk melihat konteksnya.
Konten tersebut merupakan bagian dari sebuah kampanye iklan, bukan pernyataan formal Messi yang mengatakan dirinya lebih baik dari Cristiano Ronaldo, Pele, Diego Maradona, atau legenda lainnya.
Karena itu, narasi bahwa Messi sendiri secara langsung “menyatakan debat selesai” perlu dipahami secara hati-hati.
Yang jelas, kampanye tersebut berhasil karena memakai sesuatu yang memang sulit dibantah: deretan pencapaian Messi bersama Argentina.
Dari pemain muda yang pernah menerima kartu merah hanya beberapa menit setelah debut internasionalnya, Messi akhirnya pergi sebagai juara dunia dan ikon nasional.
Dari Kritik Menjadi Legenda Argentina
Salah satu bagian paling menarik dari perjalanan Messi adalah perubahan hubungannya dengan publik Argentina.
Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang Diego Maradona.
Setiap kegagalan di Piala Dunia atau Copa América selalu menghasilkan pertanyaan yang sama: apakah Messi benar-benar bisa memberikan hal yang sama kepada Argentina seperti yang dilakukan Maradona?
Kini pertanyaan tersebut terasa jauh berbeda.
Messi meninggalkan tim nasional setelah membawa negaranya memenangkan Copa América dua kali dan Piala Dunia.
Asosiasi Sepak Bola Argentina sendiri menggambarkan perjalanan Messi sebagai lebih dari dua dekade kejayaan yang berakhir setelah ia mencapai hampir semua hal yang mungkin diraih seorang pemain bersama negaranya.
Jadi, Apakah Messi Sudah Layak Disebut GOAT?
Secara objektif, tidak ada badan resmi yang bisa memberikan gelar “GOAT” dalam sepak bola.
Namun jika pertanyaannya adalah apakah Lionel Messi memiliki argumen yang sangat kuat untuk status tersebut, jawabannya jelas: iya.
Ia memiliki kombinasi yang sangat jarang ditemukan dalam satu pemain:
- Piala Dunia
- dua Copa América
- Finalissima
- empat Liga Champions
- sederet gelar domestik
- delapan Ballon d’Or
- ratusan gol
- ratusan assist
- rekor bersama Argentina
- longevity lebih dari dua dekade
Tetapi sepak bola tetap memiliki unsur subjektif.
Pendukung Cristiano Ronaldo, Maradona, Pele, atau pemain lain akan selalu memiliki alasan dan kriteria masing-masing.
Dan mungkin justru itu yang membuat debat GOAT tidak pernah kehilangan daya tarik.
Penutup
Piala Dunia, Copa América, dan segudang rekor membuat karier Lionel Messi kini terlihat hampir lengkap dari segala sisi.
Dulu, kritik utama terhadap Messi adalah minimnya gelar bersama Argentina. Kini ia meninggalkan tim nasional sebagai juara dunia, dua kali juara Copa América, pemegang rekor penampilan, dan pencetak gol terbanyak negaranya.
Unggahan terbaru yang membawa pesan “GOAT debate settled” terasa seperti epilog yang sempurna untuk perjalanan tersebut.
Apakah itu berarti semua orang harus sepakat Lionel Messi adalah pemain terbaik sepanjang masa?
Tentu tidak.
Namun setelah semua yang ia capai, pertanyaan yang sekarang terasa lebih relevan justru bukan lagi “apa yang sudah Messi menangkan?”
Melainkan:
Apa lagi yang sebenarnya masih kurang dari Lionel Messi untuk disebut sebagai GOAT?
